Talempong sarunai. Mp3 instrument ini menjadi salah satu list favorit saya akhir-akhir ini. Entah mengapa, karena kalau boleh jujur dulunya saya tidak terlalu interest dengan yang namanya seni musik dari daerah saya sendiri, sebutlah saluang, nyanyian minang dan sebagainya. Terutama lagu-lagunya yang secara general saya nilai “kurang”. Tapi entah mengapa justru setelah menjadi perantau, barulah terasa kalau yang bunyi-bunyian itu begitu indah. Bukan berarti saya mulai menyukai lagu-lagu minang, saya justru lebih tertarik dan suka mendengar instrument alat-alat musik tradisional minang. Rasa rindu akan kampung halaman sedikit terobati dengan mendengarnya. Begitu damai dan alunannya indah.
Mengingat itu semua, saya jadi berfikir, begitukah pola manusia? Dalam hal ini saya berusaha untuk mengeneral apa yang saya rasakan dengan apa yang dirasakan orang lain juga. Mungkin tidak akan sama persis, tapi saya yakin manusia lain juga pernah merasakan ini. Perasaan suka dan tidak akan sesuatu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi? Saya akan coba mencari benang merahnya.
Dalam satu hadist Rasulullah pernah bersabda “Berjuanglah kamu untuk kehidupan dunia mu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu seolah-olah engkau akan mati esok hari.” Nah lo, apa hubungannya antara talempong sarunai dengan hidup selamanya dan akhirat???
Tenang-tenang, yang saya lihat disini justru adalah bagaimana pola manusia tersebut diarahkan untuk hal-hal yang bersifat seperti yang terkandung dalam hadist tersebut. Pada dasarnya suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta semuanya bisa dikelola oleh manusia itu sendiri. Mengapa saya menitik beratkan pada rasa, karena manusia itu akan bertindak sesuai dengan kondisi hatinya, jadi output yang keluar dari sikap dan perilakunya adalah hasil dari proses yang berasal dari inputan hati. Proses yang melibatkan seluruh anggota tubuh, termasuk otak sebagai pusat “komando”.
Manusia berbeda-beda dalam menemukan stimulus untuk dia bisa mengkondisikan hati. Sepertinya saya yg dulunya tidak tertarik sama sekali tidak melihat apa bagusnya bunyi-bunyian alat tradisional minang, justru ketika berada dilingkungan yang jauh dari kampong halaman dan dengan masyarakatnya yang heterogen membuat saya menjadi berbalik justru sangat senang mendengarnya. Apa faktor yang merubah pola pikir saya terhadap alat musik tersebut? Ya, kondisi dan situasi telah membuat saya menghasilkan rasa yang berbeda dari sebelumnya.
Dalam hal ini saya menganalogikannya dengan bagaimana kita menyikapi apa yang digariskan takdir kita untuk kehidupan ini. Kita diminta untuk berusaha selalu untuk kehidupan dunia kita seolah-olah kita akan hidup selamanya, disana terkandung makna untuk selalu tegar tanpa putus asa untu menghasilkan sesuatu secara kontinu, tanpa pernah berfikir bahwa sesuatu itu sia-sia belaka. Ciptakan kondisi yang dapat menjaga cara pandang kita serta bisa menjadi stimulus untuk menyukai apa-apa yang bisa menjadikan kita manusia yg lebih baik dari waktu ke waktu.
Lain konteks jika kita sedang berfikir tentang ibadah kita, berfikirlah seolah-olah kita akan mati esok hari. Kedua hal tersebut tidak lain tidak bukan hanyalah untuk pengkondisian hati dan pikiran agar kita bisa mengontrol output yang dihasilkan. Yang tadinya tidak semangat kerja menjadi semangat, yang tadinya tidak suka atau malas dalam beribadah menjadi sebaliknya justru menjadikan ibadah sebagai suatu kesenangan dan kebutuhan. Karena seyogyanya kita hanyalah perantau dari negeri akhirat.

Mmhh, dilema. Hidup manusia memang akrab dengan kehadiran dilema-dilema, mulai dari skala kecil sampai pada dilema yang cukup dramatis atau malah tragis. Tapi tenang, sekarang saya hanya ingin sedikit berbagi tentang dilema yang tengah saya hadapi, topiknya tidak terlalu melankolis apalagi sosialis (halah ga jelas ^^).
Tak jarang kita mendengar seruan atau bahkan ancaman seorang Ibu ketika mendapati anak balitanya tengah bermain pisau. Mulai dari memperingatkan secara halus sampai dalam bentuk hardikan. Sementara si anak, boleh dibilang lebih sering mengambil sikap tidak peduli. Ketika kebetulan dipergoki dan pisau segera direbut sang Ibu, si anak seolah-olah bersikap manis, namun lain waktu saat dia mendapatkan kesempatan yang sama, dia akan terlupa dengan pesan sang ibu, dan kembali memainkannya. Coba kita lihat dari sisi sang Ibu. Si Ibu yang dengan susah payah merawat mulai dari kandungan sampai pada masa bertumbuh, tentu punya alasan yang kuat kenapa sampai sebegitu kekeh melarang si anak.