Talempong Sarunai

Talempong sarunai. Mp3 instrument ini menjadi salah satu list favorit saya akhir-akhir ini. Entah mengapa, karena kalau boleh jujur dulunya saya tidak terlalu interest dengan yang namanya seni musik dari daerah saya sendiri, sebutlah saluang, nyanyian minang dan sebagainya. Terutama lagu-lagunya yang secara general saya nilai “kurang”. Tapi entah mengapa justru setelah menjadi perantau, barulah terasa kalau  yang bunyi-bunyian itu begitu indah. Bukan berarti saya mulai menyukai lagu-lagu minang, saya justru lebih tertarik dan suka mendengar instrument alat-alat musik tradisional minang. Rasa rindu akan kampung halaman sedikit terobati dengan mendengarnya. Begitu damai dan alunannya indah.

Mengingat itu semua, saya jadi berfikir, begitukah pola manusia? Dalam hal ini saya berusaha untuk mengeneral apa yang saya rasakan dengan apa yang dirasakan orang lain juga. Mungkin tidak akan sama persis, tapi saya yakin manusia lain juga pernah merasakan ini. Perasaan suka dan tidak akan sesuatu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi? Saya akan coba mencari benang merahnya.

Dalam satu hadist Rasulullah pernah bersabda  “Berjuanglah kamu untuk kehidupan dunia mu seolah-olah engkau akan hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhirat mu seolah-olah engkau akan mati esok hari.” Nah lo, apa hubungannya antara talempong sarunai dengan hidup selamanya dan akhirat???

Tenang-tenang, yang saya lihat disini justru adalah bagaimana pola manusia tersebut diarahkan untuk hal-hal yang bersifat seperti yang terkandung dalam hadist tersebut. Pada dasarnya suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta semuanya bisa dikelola oleh manusia itu sendiri. Mengapa saya menitik beratkan pada rasa, karena manusia itu akan bertindak sesuai dengan kondisi hatinya, jadi output yang keluar dari sikap dan perilakunya adalah hasil dari proses yang berasal dari inputan hati. Proses yang melibatkan seluruh anggota tubuh, termasuk otak sebagai pusat “komando”.

Manusia berbeda-beda dalam menemukan stimulus untuk dia bisa mengkondisikan hati. Sepertinya saya yg dulunya tidak tertarik sama sekali tidak melihat apa bagusnya bunyi-bunyian alat tradisional minang, justru ketika berada dilingkungan yang jauh dari kampong halaman dan dengan masyarakatnya yang heterogen membuat saya menjadi berbalik justru sangat senang mendengarnya. Apa faktor yang merubah pola pikir saya terhadap alat musik tersebut? Ya, kondisi dan situasi telah membuat saya menghasilkan rasa yang berbeda dari sebelumnya.

Dalam hal ini saya menganalogikannya dengan bagaimana kita menyikapi apa yang digariskan takdir kita untuk kehidupan ini. Kita diminta untuk berusaha selalu untuk kehidupan dunia kita seolah-olah kita akan hidup selamanya, disana terkandung makna untuk selalu tegar tanpa putus asa untu menghasilkan sesuatu secara kontinu, tanpa pernah berfikir bahwa sesuatu itu sia-sia belaka. Ciptakan kondisi yang dapat menjaga cara pandang kita serta bisa menjadi stimulus untuk menyukai apa-apa yang bisa menjadikan kita manusia yg lebih baik dari waktu ke waktu.

Lain konteks jika kita sedang berfikir tentang ibadah kita, berfikirlah seolah-olah kita akan mati esok hari. Kedua hal tersebut tidak lain tidak bukan hanyalah untuk pengkondisian hati dan pikiran agar kita bisa mengontrol output yang dihasilkan. Yang tadinya tidak semangat kerja menjadi semangat, yang tadinya tidak suka atau malas dalam beribadah menjadi sebaliknya justru menjadikan ibadah sebagai suatu kesenangan dan kebutuhan. Karena seyogyanya kita hanyalah perantau dari negeri akhirat.

Leave a Comment

wanna grow old ?

Ada slogan yang menyatakan bahwa “ Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu pilihan.” Dari sana jelas terlihat bahwa beranjaknya usia kita menuju tua itu adalah satu keniscayaan, terlepas dari kepribadian yang kita bangun apakah telah menuju kematangan atau masih belum siap dengan usia yang telah dicapai. Satu hal yang haq, fitrah, tak dapat disangkal dan tidak dapat dihindari. Meskipun dengan berbagai pemanfaatan kemajuan teknologi manusia berusaha untuk menghindarinya, namun yang terjadi adalah kamuflase  dan seolah-olah berusaha untuk pengelabuan terhadap dunia, terutama diri sendiri.

Menjadi tua, sebenarnya bisa menjadi suatu hal yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, namun juga menjadi sesuatu yang menunjukkan pencapaian maksimal dari perjalanan hidup seorang hamba. Seperti yang Allah telah jelaskan dalam al-qur’an bahwa manusia itu satu saat pasti akan kembali pada titik awal penciptaannya. Kurva, manusia akan mulai dari titik nol, kemudian beranjak naik, mencapai titik klimaks, dan kemudian akan mulai menurun hingga akhirnya kembali ke titik nol. Itulah kehidupan. Benarlah kata Allah, kalau kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau belaka, sejenak, tak kan lama. Resapi dan renungilah. Berapa usia kita sekarang. Tidakkah waktu terasa bergulir begitu cepat. Sering kita merasa  jika rasanya baru “kemarin” berada diusia kanak-kanak, tapi kini, kita sendiri telah harus menjadi penanggung jawab bagi kanak-kanak. Dan sadarkah kita kalau tidak lama lagi kita akan kembali kemasa itu (kanak-kanak) tapi tentu dengan jasad yang tidak kanak-kanak lagi.

Pengalaman satu atap dengan orang tua usia lanjut yang telah mengalami masa-masa itu bisa membuat kita sedikit membuka mata dan berfikir, inilah akhir dari perjalanan seorang manusia di muka bumi? Kita yang sekarang begitu aktif bergerak kesana kemari, bisa berkumpul dan bercanada gurau dengan keluarga, sahabat, menghadiri taklim, rapat ini dan itu, kepanitiaan ini dan itu, menghadiri acara ini dan itu, pada saatnya kelak, jangankan untuk memenuhi hal-hal yang sifatnya sekunder atau tersier, kebutuhan primer pun tak sanggup lagi kita lakukan. Misal menyediakan makanan sendiri, menunaikan hajat kekamar mandi, berwudhuk atau lain sebagainya. Mungkin kasus orang tua yang mengalami penurunan daya ingat  tidak menimpa semua orang tua, akan tetapi penurunan daya tahan tubuh adalah satu hal yang tak dapat dicegah. Dan yang menjadi pertanyaab adalah, siapkah kita, siapkah keluarga kita?

Yah begitulah, kehidupan ini tak ubahnya seperti sisklus, sekarang pada masa jayanya, mungkin kita merasa diawang-awang karena merasa bisa melakukan dan mendapatkan segalanya, namun ada masanya kelak, saat kita justru tidak mampu dan hanya bisa berharap belas kasih dari orang-orang yang masih mencintai kita. Tidak semua suami/istri yang mampu untuk itu, tidak semua anak yang bersedia untuk itu dan tidak semua saudara juga akan berkenan untuk itu. Jadi renungkanlah, tapi yang jelas ada pengatur skenario diatas sana, Allah tau bagaimana kita, apa yang telah kita tanam dimasa muda, dan semoga itulah yang akan kita tuai disaat tua.

Comments (2)

Responsibility

Setiap manusia mestilah mempunyai tanggung jawab masing-masing, atau dalam istilah lain kita menyebutnya amanah. Baik tanggung jawab itu menjadi kewajiban pribadi maupun satu tanggungan yang dipikul secara bersama-sama (jamaah). Namun apapun bentuk dan ukurannya, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, sesuatu yang harus mendapat fokus si subjek, agar objek yang menjadi tanggung jawab tidak terlalaikan apalagi terdzalimi.

Adakalanya kita sebagai manusia memiliki saat-saat “turun” dan merasa kalau satu tanggung jawab itu telah melampaui kemampuan kita sebagai penanggung. Wajar mungkin, tapi setidaknya kita jangan sampai berputus asa apalagi berprasangka tidak baik pada Allah sang pemberi amanah. Apapun itu bentuk dari satu tanggung jawab, mesti Allah telah mengukurnya dengan kemampuan kita. Dan yang pasti setiap yang dipercayakan Allah untuk menjadi tanggung jawab kita, kelak satu persatu akan dimintai pertanggungjawabannya.

Namun bisakah manusia merasa jika satu tanggung jawab yang dibebankan atasnya itu seharusnya bukanlah bagian dari kewajibannya. Baik dilingkungan manapun, mungkin kita pernah merasakan hal itu. Satu pekerjaan ataupun kewajiban yang seharusnya menjadi tanggungan dan kewajiban orang lain, justru dibebankan atau harus dikerjakan oleh kita. Tentu fitrah jika manusia itu merasa jika hal itu tidak adil, bisa juga merasa terdzalimi. Tapi tidak jika kita mencoba memandangnya dari sudut pandang lain. Mungkin Allah memilih cara itu supaya kita bisa menjadi manusia yang lebih baik, atau dalam rangka meningkatkan kualitas kita dilingkungan tersebut. Itulah rencana dan jalan Allah. Jadi apapun itu bentuk tanggung jawab atau amanah yang telah dipercayakan, mari kita coba untuk menerima dengan lapang dada, tak mesti terlalu memaksakan diri, hanya kontribusikan usaha terbaik yang kita bisa, dan serahkan hasilnya pada Allah. Karena yang Allah lihat adalah proses yang dilakukan dan bukan hasilnya.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih dari waktu ke waktu. Manusia yang jauh dari keluh kesah dan terlalu sering menyalahkan keadaan. Tidak lagi memandang  suatu tanggung jawab dengan pola fikir negatif, dan mampu menjadikannya sebagai peluang (peningkatan kualitas) dan bukan justru sebaliknya.

Leave a Comment

Kaki dan Mentari

Matahari kian menjulang
Bayangan hitam oleh terpaannya semakin mengerdil
Kaki itu masih menapak
Memembus hutan belantara
Semakin dalam, semakin kelam
Cahaya tertutup rimbunnya dedaun pepohonan nan tinggi
Teriknya mentari tak dirasa lagi
Lembab, dingin mulai menyergap
Kaki itu tetap menapak
Sesekali terseok karena lahan tak rata
Terseret, namun tetap beranjak
Pandangan mulai kabur
Pekatnya embun membuat sulit bernafas
Seberkas cahaya seketika muncul dari kejauhan
Menawarkan kilau dan kehangatan
Kaki beranjak, mendekat
Tak pedulikan arah dan acuan
Kian berkilau, kian hangat
Semakin dekat dan tak berjarak
Kaki terkulai
Ketika menguak rerimbun, tampak genangan air yang memantulkan mentari
Tapi sekarang tidak lagi
Awan hitam telah membuatnya tak berona
Hawa semakin dingin, dan rimba tak dikenali lagi…
Kaki semakin lemas, tak lagi kuat untuk tegak
Mentari tak peduli, mulai condong dan pudar
Kaki terhempas

Jakarta, 24th December 09

Comments (2)

Dilema Hobi dan/atau Profesi

ikhlasMmhh, dilema. Hidup manusia memang akrab dengan kehadiran dilema-dilema, mulai dari skala kecil sampai pada dilema yang cukup dramatis atau malah tragis. Tapi tenang, sekarang saya hanya ingin sedikit berbagi tentang dilema yang tengah saya hadapi, topiknya tidak terlalu melankolis apalagi sosialis (halah ga jelas ^^).

Pertama saya akan coba bahas tentang defenisi dari hobi dan profesi. Menurut kamus online wikipedia, hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Kata Hobi merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris “Hobby”. Sementara tujuan hobi adalah untuk memenuhi keinginan dan mendapatakan kesenangan. Terdapat berbagai macam jenis hobi seperti mengumpulan sesuatu (Koleksi), membuat, memperbaiki, bermain dan pendidikan dewasa. Kata rekreasi yang digunakan diatas tentu tidak dalam artian yang sempit, dengan harus bepergian ke luar rumah dan sebagainya. Yang menjadi inti dari hobi adalah bagaimana cara seseorang untuk melakukan sesuatu yang dia senangi dan memperoleh satu ketenangan pikiran.
Sementara itu profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lainnya, oleh karena itu istilah yang saya pakai disini adalah profesi dan bukan pekerjaan.

Beranjak dari defenisi diatas tentu masing-masing kita memiliki satu hobi yang berbeda-beda. Ada yang hobi bermain basket, memasak, filateli, koleksi lukisan, nonton film, tidur (hehe, ini bukan tergolong hobi kali ya ^^) dan lain sebagainya.

Kalau saya sendiri kebetulan memiliki hobi yang menurut saya pribadi cukup aneh, biasa kaum ibu-ibu hobinya klo ga masak, ngjahit, berkebun, filateli, koleksi parfum atau sejenisnya, tapi saya justru kurang tertarik dengan itu semua. Tak pasti juga sih awalnya kapan,
tapi yang jelas dari dulu saya sangat interest dengan yang berbau-bau teknologi, dan kebetulan teknologi yang paling akrab duluan itu adalah komputer.

Jujur saya baru bisa (dalam artian sebenarnya) mengoperasikan komputer adalah pada saat tahun awal kuliah, telat sih, tapi lumayan lah, hehe. Dan disemester dua saya mulai berkenalan dengan satu mata kuliah, logika pemrograman, yang membuat saya semakin terhipnotis dengan yang namanya dunia software dan hardware, tapi yang lebih membuat saya penasaran adalah dunia software-nya. Dan jadilah semenjak saat itu saya konsen belajar bahasa pemrograman, dan alhamdulillah ditahun kedua perkuliahan saya dikasih kesempatan untuk bergabung dengan rekan-rekan asisten di laboratorium komputasi. Dan semenjak itu, bergulirlah hobi itu dari mulai coding sampai pada test software ini dan itu.

Sampai akhirnya tibalah saat saya harus masuk ke “dunia” yang sesungguhnya, dunia kerja. Dunia yang saya bayangkan adalah tidak sesulit itu jika kita telah melewati berbagai level pendidikan, mulai dari TK sampai dengan Kuliah. Tapi ternyata tidak, ijazah sarjana tak hanya satu orang yang punya dan indeks nilai yang dimiliki pun tak terlalu bisa dibanggakan. Jadilah saya mulai berfikir, untuk mengambil jalur diluar konsen ilmu saya diperkuliahan.

Akhirnya berbekal ilmu yang saya peroleh karena berburu hobi, saya coba apply, dan alhamdulillah ada perusahaan yang mau menerima.

Di awal-awal kerja memang sedikit kagok, karena pasti beda, tenaga yang memang dicetak oleh lembaga yang kompeten dengan hasil belajar otodidak.
Saya mesti mengeluarkan segala energi yang dimiliki untuk dapat beradaptasi dengan dunia yang memang selama ini saya impikan. Tapi satu hal, dalam suasana yang sangat jauh berbeda. Saya tidak bisa merasakan kenikmatan lagi dalam menjalaninya, mungkin juga karena sekarang berada dalam lingkup profesi bukan hobi. Tapi tak apalah, perlahan saya mencoba untuk menerimanya sebagai pembelajaran untuk menerimanya sebagai profesi.

Puffhhhhhh. Lambat laun semua tak membaik. Rasa jenuh mulai mendominasi rasa kecintaan saya terhadap dunia codingan. Ntahlah, kenikmatan itu tidak lagi saya rasakan, yang ada hanyalah rasa tertekan karena deadline dan deadline. Saya coba merunut kembali. Bisa dibilang semenjak saya menjadikan hobi ini sebagai profesi, saya tidak lagi menemukan jalan untuk me-relaks-kan fikiran, sarana refreshing berganti dengan tidur dan tidur, karena mata rasanya lelah sekali setelah seharian memplototi monitor. Saya ukur-ukur, banyak juga waktu produktif saya terbuang dan hilang percuma.

Akhirnya setelah saya timbang-timbang, sepertinya ada suatu yang salah yang telah saya lakukan. Saya sering tertegun setiap kali terpapas dengan tumpukan buku yang dulu mati-matian saya nabung untuk bisa menfotocopy nya. Tapi sekarang, belum satupun yang bisa saya manfaatkan dari ilmu yang ada didalamnya. Dunia industri, itulah mungkin yang kini sering mengaung-ngaung di pikiran saya. Tak tau juga apakah itu respon permanen atau temporer akibat kejenuhan sesaat. Tapi yang pasti saya sudah berniat kuat untuk kembali memposisikan keduanya ketempat seharusnya. Saya akan mengembalikan hobi pada posisinya, begitupun saya akan berusaha untuk mencari wadah yang dapat menampung pengaplikasian ilmu sesuai dengan jurusan yang dulu sudah dipercayakan oleh Allah untuk saya menjadi salah satu alumnusnya.

Mungkin yang saya sharing ini tidak berlaku untuk semua orang. Agak idealis memang jika terlalu memaksakan. Belum lagi kalau dua kata itu bertemu dengan dua kata lainnya, yaitu kebutuhan dan keinginan, mungkin keputusan yang akan ditempuh bisa jadi berbeda karena keterlibatan dua variabel tersebut.
Saya teringat dengan seorang dosen, beliau selalu berkata kalau menjadi dosen adalah hobi beliau, sementara profesinya adalah sebagai pemain bola. Mungkin agak ganjil, karena rutinitas keseharian beliau adalah dosen, tapi selama itu seimbang tak mengapalah, ada profesi, ada hobi. Dan selama kita masih bisa mengakomodirnya untuk berjalan seirama, seharusnya tak ada masalah.

Trakhir, marilah seoptimal mungkin kita manfaatkanlah jatah umur yang singkat ini, demi kemaslahatan sebanyak mungkin orang, dengan ilmu yang diamanahkan pada masing-masing kita, dan semoga setiap ilmu yang kita miliki dapat menjadi ladang amal sebagai bekal kita di kehidupan nan abadi kelak, amin…. :) (Lho, jadi kaya penutupan ceramah… Gpp d ;)

Btw, apakah Anda pernah mengalami hal serupa dengan yang saya alamin??? ^^

Comments (8)

Merenung Sejenak…

mytree Tak jarang kita mendengar seruan atau bahkan ancaman seorang Ibu ketika mendapati anak balitanya tengah bermain pisau. Mulai dari memperingatkan secara halus sampai dalam bentuk hardikan.  Sementara si anak, boleh dibilang lebih sering mengambil sikap tidak peduli.  Ketika kebetulan dipergoki dan pisau segera direbut sang Ibu, si anak seolah-olah bersikap manis, namun lain waktu saat dia mendapatkan kesempatan yang sama, dia akan terlupa dengan pesan sang ibu, dan kembali memainkannya. Coba kita lihat dari sisi sang Ibu. Si Ibu yang dengan susah payah merawat mulai dari kandungan sampai pada masa bertumbuh, tentu punya alasan yang kuat kenapa sampai sebegitu kekeh melarang si anak.

Begitulah. Itu hanya sebuah analogi sederhana. Dalam menjalani kehidupan, kita telah diwarisi Rasulullah SAW dengan 2 pegangan yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Didalamnya telah terangkum komplit, kemaslahatan apa yang diserukan untuk kita melakukannya, serta bayangan ancaman apa yang akan diperoleh jika kita melakukan pelanggaran. Seruan dan ancaman yang dipaparkan janganlah dipandang sebagai suatu yang harus direspon negatif. Jangan justru berfikir kalau itu suatu bentuk pengekangan atau bahkan sampai menilai kalau satu ketentuan itu tidak logis. Alam pikiran manusia sangat sempit, terkadang tak mampu menjangkau apa hikmah besar yang akan terjadi jika dia melakukan hal-hal yang dilarang. Seperti kekhawatiran seorang Ibu yang justru mengharuskan dirinya melarang si anak untuk bermain pisau, karena takut anaknya akan terluka atau justru bisa melukai orang lain, sementara si anak sendiri belum paham betul kegunaan benda yang bersikukuh dipertahankannya.

Yah, kita memang sering terlupa, bahkan terkadang dengan sengaja berdalih, seolah-olah sudah menjadi makhluk yang pintar, ketika ketentuan itu tidak sesuai dengan keinginan (lebih tepatnya nafsu). Dan jadilah, sedikit demi sedikit, larangan demi larangan menjadi hal yang biasa untuk kita lakukan. Naudzubillahimindzalik…

Allah sayang pada hambanya. Rasulullah sangat cinta umatnya. Jadi, tetaplah dalam ketentuan yang telah diwariskan.

“Kenapa justru ketika pisau itu telah benar-benar melukai, barulah sang anak tersadar kalau seruan si Ibu baik adanya. Sakit yang diderita, seharusnya tak perlu dirasa. Dan kini, dengan rengekan manja, sang anak mulai merapatkan diri kembali kepangkuan ibu. Berharap belai kasih sayangnya…”

Ya Rabb, jauhkan hamba dari penyakit kerasnya hati dan lemahnya iman, amin…

Comments (1)

Are U Ready?

Wah, udah lama g nulis, kangen juga… :)

Mmm, mau sedikit berbagi cerita tentang satu hal yang cukup menarik perhatian saya akhir-akhir ini. Beberapa minggu/bulan belakangan, iklan ajakan pemerintah untuk mengikuti program KB mulai intens lagi muncul di Televisi, terlepas dari apa alasan kongkritnya, tapi kalau melihat disekeliling sih cukup beralasan juga kali, mungkin ada kekhawatiran pemerintah tentang lumayan tinggi-nya angka kelahiran penduduk Indonesia.

Semisal di sekitar tempat tinggal saya saja (tetangga-tetangga bersebelahan rumah) ada 3 orang bayi yang baru lahir, dan persalinan mereka hanya berselang 1 bulan (untuk bayi pertama) dan 3 hari untuk bayi kedua dan ketiga. Alhmdulillah, meskipun dengan teknik kelahiran yang berbeda (caesar dan normal) bayi dan ibunya selamat dan sehat.

Populasi yang saya angkat sebagai sampling ini mungkin belum bisa mewakili angka kelahiran-kematian penduduk Indonesia secara keseluruhan, tapi untuk menjadi fokus cerita kali ini, cukup lah :) (hehe, maksa).

Yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana seruan “2 anak saja cukup” itu mampu untuk menahan angka pertumbuhan penduduk. Apakah tidak sebaiknya yang diintens kan itu adalah diadakannya “penyuluhan pra nikah”, dengan tujuan untuk membentuk pola pikir dan komitmen para calon orang tua dengan “bener”, klo bisa sampai ke cara bikin RAB (Rancangan Anggaran Biaya) dan RAPBK beberapa tahun kedepan (maunya :p).
Informasikan juga faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan serta dipersiapkan. Misal, perlunya komitmen tentang berapa jumlah anak serta ancang-ancang pendidikan dan pola hidup sehat untuk mereka.

Nah, klo komitmen diawal sudah clear, tentunya calon orang tua sudah mampu mulai “mengukur-ukur” kapabilitas mereka, kini dan kelak, pada saat sudah menjadi orangtua. Kalau si orang tua merasa mampu untuk mengayomi 4 atau 5 orang anak, kenapa tidak, justru bagus, karena bertambahnya pemuda-pemuda bangsa yang berkontribusi dalam pembangunan. Tapi sebaliknya, jika merasa memang tidak sanggup, 1 atau 2 anak saja sudah cukup. Karena bagaimanapun, anak adalah titipan, bukan pemberian, jadi kendatinya sebuah titipan tentu sebagai “yang dititipi” (baca orang tua red.) punya tanggung jawab moril dan sprituil yang nantinya juga akan dimintai pertanggung jawabannya sama Yang Menitipi…

Intinya, kalau membangun sebuah rumah saja  butuh kejelasan konsep dan perhitungan yang matang, kenapa pada saat akan membangun rumah tangga tidak???

So, are u ready to be a parents ???  ;)

Comments (10)

Kisah…

Layangan itu dulunya hanya sebilah bambu dan selembar kertas. Kemudian, tangan-tangan terampil mulai bekerja sama untuk membentuknya menjadi sebuah layangan. Dengan menautkan seutas tali, layangan itu mulai disiapkan untuk terbang. Angin bertiup, dan layanganpun mulai mengudara. Tinggi dan semakin tinggi. Meliuk-liuk kesana kemari. Betapa eloknya, berada diantara keindahan angkasa nan cerah. Tali terus diulur dan diulur. Tak disadari, sudah sampailah di ujungnya. Layangan pun terlepas, dan kini tak berkendali. Angin tak lagi segan menghuyungnya sesuka hati. Menerpa dan mendera. Layangan mulai ringset. Menukik menuju darat. Namun tiba-tiba tersangkut di hujung pohon, pohon yang rimbun dan kokoh. Namun, apalah arti rimbunnya, layangan tetap tak terselamatkan. Terpaan angin, terik mentari serta tetesan embun, tetap leluasa mendekap layangan.Masa pun berlalu, dan kisah layangan itu kini adalah, serpihan buih kertas dan ruas kayu lapuk…

Comments (6)

Satu Doa

Dear Sahabat,

Hari ini, aku tau, merupakan hari yang akan kau catat sebagai satu tonggak sejarah dalam hidup mu.

Tapi, disaat yang begitu penting buatmu, aku yang mengaku sebagai sahabat, tidak dapat hadir di dekat mu, merasakan aura kebahagiaanmu itu.

Maafkan aku teman, meskipun jasad yang tak berhadir, namun doa yang ku kirim, semoga akan di sampaikan-Nya atas mu…

“Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khair”

29th of May, 2009

When the sun shine we’ll shine together
Told you I’ll be here forever
Said I’ll always be your friend
Took an oath, I’mma stick it out ’til the end

Leave a Comment

LPJ Harian, kenapa g’?

Apa yang semestinya ada dalam pikirkan kita pada saat hendak tidur dimalam hari? Dikala badan sudah terasa begitu letih, setelah menunaikan kewajibannya sepanjang hari. Ketika mata sudah tak tahan lagi untuk mengakhiri tugasnya hari itu.
Apakah kerjaan di kantor yang masih menumpuk? Apakah bayangan kesulitan uang, cicilan nunggak, kreditan yang jatuh tempo? Atau justru memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat seperti, “Kira-kira kelanjutan sinetron itu bagaimana ya. Mmm atau kira-kira artis itu jadi cerai g ya…. (penting g sih  ^-^, esp tuk TV mania nih… )

Apakah kita pernah berpikir? Ketika kita mulai mebaringkan badan, akankah jasad ini akan kembali bisa bangkit pada keesokkan hari? Ketika mata mulai terpenjam, apakah kita yakin bahwa dia akan kembali terbuka esok hari?

Mungkin terdengar “berlebihan”, tapi itulah kenyataanya. Tidak ada yang tau seberapa lama jatahnya di dunia ini. Dikala disibukkan dengan berbagai rutinitas, fikiran seperti itu mungkin sering kali terabaikan, malah kadang tak pernah singgah di pikiran kita.

Tapi, disaat hendak menunaikan hajat untuk beristirahatpun apakah hal tersebut masih akan kita abaikan? Coba kita renungkan, dalam kondisi tidur, pada saat jasad dikuasai oleh alam bawah sadar, siapa yang dapat memastikan bahwa mulut kita akan mampu melafadzkan kalimatullah?

Entahlah, saya pribadi pun sampai sekarang masih sering terlalai akan hal itu. Mungkin terlihat sepele, namun, akan menjadi besar dikala dia-nya sudah berpredikat “Past Tenses”.

Karena itu,  marilah kita mulai belajar menutup setiap hari kita dengan instrospeksi (muhasabah), runut segala yang sudah dilakukan sepanjang hari. Setidaknya kita sempat beristigfar untuk kesalahan yang telah dilakukan, dan bersyukur atas karunia yang telah kita peroleh hari itu. Tidak harus memakan waktu lama, yang penting kita bisa sadari, apa yang harus dipertahankan dan apa yang mesti diperbaiki, jika esok hari masih diberikan kesempatan. Namun jika tidak, semoga istigfar dam rasa syukur kita dapat menjadi amalan yang dapat memberatkan timbangan kebajikan di alam selanjutnya serta memperlancar LPJ kita dihadapan Sang Khalik. Amin….

Comments (6)

Older Posts »