Keep Survive and Walk

Leave a comment

Tak terasa, sehari menjelang tepat 2 bulan perjalanan kita. Baru sedikit memang yang telah dilalui, namun sudah begitu banyak yang kita dapatkan. Banyak yang harus kita dipelajari, banyak yang mesti dipahami, dan banyak yang wajib kita mengerti.

Keberadaan kita satu sama lain adalah untuk saling berbagi, saling melengkapi. Cukuplah senyum yang hadir disetiap ujung canda tawa ataupun tangis duka lara. Tetaplah tersenyum. Karena itu yang mampu membuat kita tetap terjaga dan bertahan, untuk saling menopang, untuk senantiasa saling mengokohkan.

Semoga, perjalanan kita tetap seperti ini adanya, berbalut suka, meski kadang didera duka. Karena bersama, kita pasti bisa, melumpuhkan semua jenuh, membunuh segala keluh, memberi ruang dan menghadirkan kelapangan, mengubah susah menjadi mudah. Semua akan kita bangun dalam cinta dan kasih sayang, karena Allah semata.

Getir

Leave a comment

2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum angkot, melewati pasar dan pemukiman. Matahari mulai condong kebarat, mengabarkan pada sejagad alam jika siang akan segera berganti malam. Wajah-wajah sendu itu. Berdiri dengan tatapan kosong, duduk dengan punggung lunglai, atau berjongkok dengan bertopang dagu. Bibir datar tak sedikitpun tergurat senyum, hanya mata seolah berbicara, kenapa hari begitu cepat berlalu, sementara dagangan mereka masih banyak memenuhi gerobak. Apa nanti yang akan dikabarkan pada anak-anak mereka yang tengah menanti sang ayah pulang dengan membawa uang bulanan sekolah yang telah seminggu dijanjikan. Apa nanti jawaban penenang kegundahan hati sang istri yang setiap hari didatangi tagihan sewa rumah. Apa yang akan dijadikan alasan lagi pada pemberi pinjaman modal yang sudah beberapa kali memberi peringatan untuk setoran secepatnya. Apa? Apa?

Sedih, perih, tapi itulah kehidupan. Tak kan tau rasanya manis, jika tidak pernah mencoba pahit. Tak kan berbeda rasanya nikmat jika tak pernah disuguhi getir. Sabar, tawakal, semua pasti ada jalan keluarnya. Besar kecil ujian hanyalah ukuran dimata manusia, karena sebelum terjadi pada seorang manusia, sang Khalik telah terlebih dahulu menakarnya, dan memastikan kita sanggup menjalani semua itu.

“Faizza azzamta fatawakal ‘alallah”

Ketika Tanya

4 Comments

Pertanyaan itu masih terlontar
Tapi jawab masih enggan menepis
Hingga tanya berulang dan berulang
Tapi…

Apakah pernah angin menanyakan pada awan sebelum hendak menggiringnya hingga tercipta hujan ?
Apakah pernah air hujan bertanya pada tanah sebelum turun dan membasahinya?
Apakah pernah malam bertanya pada siang untuk menghadirkan gelapnya?
Atau sebaliknya, apakah pernah siang bertanya pada malam untuk menggantikan gelapnya dengan benderang?

Apakah perlu dipertanyakan?
Apa tak cukup dirasakan halusnya sapuan angin?
Apa tak cukup dinikmati segarnya guyuran hujan?
Apa tak cukup dipandangi keindahan malam dan cerahnya siang?

Mungkin tak semua tanya perlu berjawab lisan
Tak semua risau perlu berbuah tanya
Tapi jikala itu penyebab galau
Angin akan membisikkan pada awan yang kemudian mengabarkan pada tanah
Malam pun akan berpamit pada siang yang juga akan selalu mengabarkan malam
Betapa dalam ketaatan pada titah TuhanNya
Untuk senantiasa berjalan dengan sepenuh cinta dan kasih sayang

(uhhibbukum fillah :) )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.