2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum angkot, melewati pasar dan pemukiman. Matahari mulai condong kebarat, mengabarkan pada sejagad alam jika siang akan segera berganti malam. Wajah-wajah sendu itu. Berdiri dengan tatapan kosong, duduk dengan punggung lunglai, atau berjongkok dengan bertopang dagu. Bibir datar tak sedikitpun tergurat senyum, hanya mata seolah berbicara, kenapa hari begitu cepat berlalu, sementara dagangan mereka masih banyak memenuhi gerobak. Apa nanti yang akan dikabarkan pada anak-anak mereka yang tengah menanti sang ayah pulang dengan membawa uang bulanan sekolah yang telah seminggu dijanjikan. Apa nanti jawaban penenang kegundahan hati sang istri yang setiap hari didatangi tagihan sewa rumah. Apa yang akan dijadikan alasan lagi pada pemberi pinjaman modal yang sudah beberapa kali memberi peringatan untuk setoran secepatnya. Apa? Apa?
Sedih, perih, tapi itulah kehidupan. Tak kan tau rasanya manis, jika tidak pernah mencoba pahit. Tak kan berbeda rasanya nikmat jika tak pernah disuguhi getir. Sabar, tawakal, semua pasti ada jalan keluarnya. Besar kecil ujian hanyalah ukuran dimata manusia, karena sebelum terjadi pada seorang manusia, sang Khalik telah terlebih dahulu menakarnya, dan memastikan kita sanggup menjalani semua itu.
“Faizza azzamta fatawakal ‘alallah”
Recent Comments