Kursi Parlemen Ada di Busway

4 Comments

Lagi-lagi seputar busway. Maklumlah, karena rutinitas menuntut keseharian yang tak terlepas dari transport yang satu ini.

Ada beberapa kisah menarik sebenarnya yang didapat selama ber-busway ria. Namun karena keterbatasan waktu dan mood (bener g tuh penulisannya, bodo lah ;) ), jadi yang ingin di-share kali ini adalah kisah tentang kursi parlemen, mengingat hawa-hawa politik yang selalu hangat dan tak pernah sepi :) .

Saya menggunakan busway bertepatan dengan saat frekuensi calon penumpang yang tinggi, maklum, jam-jamnya berangkat-pulang kerja. Otomatis tak terelakkan lagi, > 50% dapat diprediksi tidak akan mendapat jatah kursi nantinya, alias berdiri, terlebih untuk jam-jam pulang kerja.

Ada satu fenomena yang lumayan miris sekaligus bingung. Saat pulang kerja, benar adalah saat dimana kondisi badan mulai menurun, tidak wanita ataupun laki-laki. Tapi, apakah legalisasi siapa cepat dia dapat, dapat diberlakukan secara ‘membuta’ tanpa ‘tebang pilih’?. Jangankan istilah  “Ladies First”, yang dari Inggris, “Hormati yang tua, dan Sayangi yang Muda”  yang notabene sudah ditanamkan sedari SD saja sudah habis di ekspor ke antah berantah.

Itu terlihat jelas saat mendapati semua bangku terisi penuh, kendati sebagian besar yang dalam kondisi duduk adalah kaum laki-laki, mulai dari yang biasa sampai yang berbadan tegap, semua seakan tak ambil pusing, bahasa gaulnya ‘I don’t care’, walaupun dihadapan mereka kini telah berdiri, sesekali “teroyong-oyong”, ibu-ibu yang lebih pantas mereka beri tempat duduk. Tapi apalah itu semua, sebagian justru memilih memejamkan mata, mulai dari yang membuat kesan seolah-olah tertidur, sampai pada yang bener-bener tertidur pulas (kruok….kruok…^^).

Begitu hebatnya magnet satu bangku di busway, disetiap halte pemberhentian, nyaris semua mata penumpang yang berdiri, tertuju pada bangku yang akan segera ditinggalkan. Semua mata fokus, dan sesekali memperhatikan posisi disekitar, kira-kira saingan mereka siapa saja untuk memperebutkan posisi itu. Dan… Hap, kembali siapa cepat dia dapat. Tidak perduli apakah rekan disampingnya sudah lebih lama berdiri…

Huff….  Ada apa semua ini? Sudah sedemikian parahkah rasa kepedulian dan kekeluargaan diantara sesama kita.

So, apa bedanya kita dengan beliau-beliau yang ingin memperebutkan posisi di parlemen pemerintahan?

Ternyata kita masih harus mengkoreksi diri sebagai masyarakat, sebelum berkoar-koar untuk menghujat dewan kita yang terhormat yang ada diperlemen. Intinya… mari sama-sama berbenah diri :)

Kisah yang Tak Seharusnya Berkisah

11 Comments

“Mereka dulu itu menikah karena cinta, dan kini pun atas nama cinta, sang istri mengajukan cerai, karena sekarang cinta itu tidak ditujukan lagi untuknya.”

 

Begitulah sepenggal kisah yang diceritakan kepada saya. Terkejut, pasti. Karena sangat tidak percaya kalau kasus yang selama ini hanya saya baca sebagai kisah-kisah di majalah atau tabloid, atau dengan berbagai dramatisasinya diberitakan secara audio-visual di televisi. Namun semua kasus itu tak begitu berasa, mungkin karena orang yang mengalami itu tidak saya kenal. Tapi untuk yang satu ini, saya kenal baik dengan keluarga mereka, dan kalau ditinjau sekilas hanya satu komentar yang mampu saya ucapkan, “Kok bisa???”. Yah begitulah, bola sudah terlanjur jauh mengelinding. Meski detail perkaranya tidak sampai ke saya, namun sekarang sang istri yang telah melahirkan dan merawat keempat anaknya, dan juga tidak sedikit membantu perekonomian keluarga mereka (saya tau persis itu red.), tengah mengajukan permohonan cerai ke pengadilan. Sementara, sang suami yang tengah jauh dinegeri orang, ntah lah, saya tidak bisa berkisah karena tidak tau apa yang tengah dilakukannya dan apa yang ada difikirannya saat ini, sehingga tega berbuat sejauh itu. Membuka lembaran kisah cinta baru pada saat pergi jauh dari rumah dengan judul jihad mencari nafkah untuk keluarga. Sungguh ironis lagi, yang menjadi tempat berbagi boleh dibilang orang dekat, satu kampung, yang kebetulan karena satu urusan pergi ketempat rantauan yang sama, dan merekapun dipertemukan disana. Pertemuan yang berujung rutinitas yang tak selayaknya.

 

Astagfirullah. Dalam sekali rasanya diri ini tersentak. Tidak pernah terbayangkan seorang wanita yang boleh dikatakan masih muda, akhirnya terpaksa memilih untuk menjadi orang tua tunggal untuk keempat anaknya yang masih butuh pengawasan dan biaya super ekstra, karena orang yang dahulu dipilih menjadi imamnya karena cinta, tidak lagi bertanggung jawab atas ikrar yang diucapkan dihadapan Allah, penghulu dan para saksi. Benarlah, cinta manusia itu fana semata, mudah bangun, gampang juga hancurnya. Yang tinggal hanya keegoisan, yang merasa diri berhak mencintai dan dicintai oleh siapa saja, kapan saja. Tak perduli lagi atas dasar apa cinta itu dibangun, atas dasar mencari Ridho Illahi kah atau hanya sekedar nafsu belaka. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita semua terlindung dari kisah cinta yang seperti itu…

A’udzubillah… A’udzubillah….. A’udzubillah…

Dilema Hobi dan/atau Profesi

8 Comments

ikhlasMmhh, dilema. Hidup manusia memang akrab dengan kehadiran dilema-dilema, mulai dari skala kecil sampai pada dilema yang cukup dramatis atau malah tragis. Tapi tenang, sekarang saya hanya ingin sedikit berbagi tentang dilema yang tengah saya hadapi, topiknya tidak terlalu melankolis apalagi sosialis (halah ga jelas ^^).

Pertama saya akan coba bahas tentang defenisi dari hobi dan profesi. Menurut kamus online wikipedia, hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Kata Hobi merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris “Hobby”. Sementara tujuan hobi adalah untuk memenuhi keinginan dan mendapatakan kesenangan. Terdapat berbagai macam jenis hobi seperti mengumpulan sesuatu (Koleksi), membuat, memperbaiki, bermain dan pendidikan dewasa. Kata rekreasi yang digunakan diatas tentu tidak dalam artian yang sempit, dengan harus bepergian ke luar rumah dan sebagainya. Yang menjadi inti dari hobi adalah bagaimana cara seseorang untuk melakukan sesuatu yang dia senangi dan memperoleh satu ketenangan pikiran.
Sementara itu profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lainnya, oleh karena itu istilah yang saya pakai disini adalah profesi dan bukan pekerjaan.

Beranjak dari defenisi diatas tentu masing-masing kita memiliki satu hobi yang berbeda-beda. Ada yang hobi bermain basket, memasak, filateli, koleksi lukisan, nonton film, tidur (hehe, ini bukan tergolong hobi kali ya ^^) dan lain sebagainya.

Kalau saya sendiri kebetulan memiliki hobi yang menurut saya pribadi cukup aneh, biasa kaum ibu-ibu hobinya klo ga masak, ngjahit, berkebun, filateli, koleksi parfum atau sejenisnya, tapi saya justru kurang tertarik dengan itu semua. Tak pasti juga sih awalnya kapan,
tapi yang jelas dari dulu saya sangat interest dengan yang berbau-bau teknologi, dan kebetulan teknologi yang paling akrab duluan itu adalah komputer.

Jujur saya baru bisa (dalam artian sebenarnya) mengoperasikan komputer adalah pada saat tahun awal kuliah, telat sih, tapi lumayan lah, hehe. Dan disemester dua saya mulai berkenalan dengan satu mata kuliah, logika pemrograman, yang membuat saya semakin terhipnotis dengan yang namanya dunia software dan hardware, tapi yang lebih membuat saya penasaran adalah dunia software-nya. Dan jadilah semenjak saat itu saya konsen belajar bahasa pemrograman, dan alhamdulillah ditahun kedua perkuliahan saya dikasih kesempatan untuk bergabung dengan rekan-rekan asisten di laboratorium komputasi. Dan semenjak itu, bergulirlah hobi itu dari mulai coding sampai pada test software ini dan itu.

Sampai akhirnya tibalah saat saya harus masuk ke “dunia” yang sesungguhnya, dunia kerja. Dunia yang saya bayangkan adalah tidak sesulit itu jika kita telah melewati berbagai level pendidikan, mulai dari TK sampai dengan Kuliah. Tapi ternyata tidak, ijazah sarjana tak hanya satu orang yang punya dan indeks nilai yang dimiliki pun tak terlalu bisa dibanggakan. Jadilah saya mulai berfikir, untuk mengambil jalur diluar konsen ilmu saya diperkuliahan.

Akhirnya berbekal ilmu yang saya peroleh karena berburu hobi, saya coba apply, dan alhamdulillah ada perusahaan yang mau menerima.

Di awal-awal kerja memang sedikit kagok, karena pasti beda, tenaga yang memang dicetak oleh lembaga yang kompeten dengan hasil belajar otodidak.
Saya mesti mengeluarkan segala energi yang dimiliki untuk dapat beradaptasi dengan dunia yang memang selama ini saya impikan. Tapi satu hal, dalam suasana yang sangat jauh berbeda. Saya tidak bisa merasakan kenikmatan lagi dalam menjalaninya, mungkin juga karena sekarang berada dalam lingkup profesi bukan hobi. Tapi tak apalah, perlahan saya mencoba untuk menerimanya sebagai pembelajaran untuk menerimanya sebagai profesi.

Puffhhhhhh. Lambat laun semua tak membaik. Rasa jenuh mulai mendominasi rasa kecintaan saya terhadap dunia codingan. Ntahlah, kenikmatan itu tidak lagi saya rasakan, yang ada hanyalah rasa tertekan karena deadline dan deadline. Saya coba merunut kembali. Bisa dibilang semenjak saya menjadikan hobi ini sebagai profesi, saya tidak lagi menemukan jalan untuk me-relaks-kan fikiran, sarana refreshing berganti dengan tidur dan tidur, karena mata rasanya lelah sekali setelah seharian memplototi monitor. Saya ukur-ukur, banyak juga waktu produktif saya terbuang dan hilang percuma.

Akhirnya setelah saya timbang-timbang, sepertinya ada suatu yang salah yang telah saya lakukan. Saya sering tertegun setiap kali terpapas dengan tumpukan buku yang dulu mati-matian saya nabung untuk bisa menfotocopy nya. Tapi sekarang, belum satupun yang bisa saya manfaatkan dari ilmu yang ada didalamnya. Dunia industri, itulah mungkin yang kini sering mengaung-ngaung di pikiran saya. Tak tau juga apakah itu respon permanen atau temporer akibat kejenuhan sesaat. Tapi yang pasti saya sudah berniat kuat untuk kembali memposisikan keduanya ketempat seharusnya. Saya akan mengembalikan hobi pada posisinya, begitupun saya akan berusaha untuk mencari wadah yang dapat menampung pengaplikasian ilmu sesuai dengan jurusan yang dulu sudah dipercayakan oleh Allah untuk saya menjadi salah satu alumnusnya.

Mungkin yang saya sharing ini tidak berlaku untuk semua orang. Agak idealis memang jika terlalu memaksakan. Belum lagi kalau dua kata itu bertemu dengan dua kata lainnya, yaitu kebutuhan dan keinginan, mungkin keputusan yang akan ditempuh bisa jadi berbeda karena keterlibatan dua variabel tersebut.
Saya teringat dengan seorang dosen, beliau selalu berkata kalau menjadi dosen adalah hobi beliau, sementara profesinya adalah sebagai pemain bola. Mungkin agak ganjil, karena rutinitas keseharian beliau adalah dosen, tapi selama itu seimbang tak mengapalah, ada profesi, ada hobi. Dan selama kita masih bisa mengakomodirnya untuk berjalan seirama, seharusnya tak ada masalah.

Trakhir, marilah seoptimal mungkin kita manfaatkanlah jatah umur yang singkat ini, demi kemaslahatan sebanyak mungkin orang, dengan ilmu yang diamanahkan pada masing-masing kita, dan semoga setiap ilmu yang kita miliki dapat menjadi ladang amal sebagai bekal kita di kehidupan nan abadi kelak, amin…. :) (Lho, jadi kaya penutupan ceramah… Gpp d ;)

Btw, apakah Anda pernah mengalami hal serupa dengan yang saya alamin??? ^^

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.