Lagi-lagi seputar busway. Maklumlah, karena rutinitas menuntut keseharian yang tak terlepas dari transport yang satu ini.
Ada beberapa kisah menarik sebenarnya yang didapat selama ber-busway ria. Namun karena keterbatasan waktu dan mood (bener g tuh penulisannya, bodo lah
), jadi yang ingin di-share kali ini adalah kisah tentang kursi parlemen, mengingat hawa-hawa politik yang selalu hangat dan tak pernah sepi
.
Saya menggunakan busway bertepatan dengan saat frekuensi calon penumpang yang tinggi, maklum, jam-jamnya berangkat-pulang kerja. Otomatis tak terelakkan lagi, > 50% dapat diprediksi tidak akan mendapat jatah kursi nantinya, alias berdiri, terlebih untuk jam-jam pulang kerja.
Ada satu fenomena yang lumayan miris sekaligus bingung. Saat pulang kerja, benar adalah saat dimana kondisi badan mulai menurun, tidak wanita ataupun laki-laki. Tapi, apakah legalisasi siapa cepat dia dapat, dapat diberlakukan secara ‘membuta’ tanpa ‘tebang pilih’?. Jangankan istilah “Ladies First”, yang dari Inggris, “Hormati yang tua, dan Sayangi yang Muda” yang notabene sudah ditanamkan sedari SD saja sudah habis di ekspor ke antah berantah.
Itu terlihat jelas saat mendapati semua bangku terisi penuh, kendati sebagian besar yang dalam kondisi duduk adalah kaum laki-laki, mulai dari yang biasa sampai yang berbadan tegap, semua seakan tak ambil pusing, bahasa gaulnya ‘I don’t care’, walaupun dihadapan mereka kini telah berdiri, sesekali “teroyong-oyong”, ibu-ibu yang lebih pantas mereka beri tempat duduk. Tapi apalah itu semua, sebagian justru memilih memejamkan mata, mulai dari yang membuat kesan seolah-olah tertidur, sampai pada yang bener-bener tertidur pulas (kruok….kruok…^^).
Begitu hebatnya magnet satu bangku di busway, disetiap halte pemberhentian, nyaris semua mata penumpang yang berdiri, tertuju pada bangku yang akan segera ditinggalkan. Semua mata fokus, dan sesekali memperhatikan posisi disekitar, kira-kira saingan mereka siapa saja untuk memperebutkan posisi itu. Dan… Hap, kembali siapa cepat dia dapat. Tidak perduli apakah rekan disampingnya sudah lebih lama berdiri…
Huff…. Ada apa semua ini? Sudah sedemikian parahkah rasa kepedulian dan kekeluargaan diantara sesama kita.
So, apa bedanya kita dengan beliau-beliau yang ingin memperebutkan posisi di parlemen pemerintahan?
Ternyata kita masih harus mengkoreksi diri sebagai masyarakat, sebelum berkoar-koar untuk menghujat dewan kita yang terhormat yang ada diperlemen. Intinya… mari sama-sama berbenah diri
Tak jarang kita mendengar seruan atau bahkan ancaman seorang Ibu ketika mendapati anak balitanya tengah bermain pisau. Mulai dari memperingatkan secara halus sampai dalam bentuk hardikan. Sementara si anak, boleh dibilang lebih sering mengambil sikap tidak peduli. Ketika kebetulan dipergoki dan pisau segera direbut sang Ibu, si anak seolah-olah bersikap manis, namun lain waktu saat dia mendapatkan kesempatan yang sama, dia akan terlupa dengan pesan sang ibu, dan kembali memainkannya. Coba kita lihat dari sisi sang Ibu. Si Ibu yang dengan susah payah merawat mulai dari kandungan sampai pada masa bertumbuh, tentu punya alasan yang kuat kenapa sampai sebegitu kekeh melarang si anak.
Recent Comments